Duh malam minggu hujan :D wkwk
Suer kaget banget lagi anteng2 nulis postingan tau2 *berr..beerrr..beerrr.derrr!!* Ujan mengguyur tambun dan sekitarnya. Malem minggu pula :p hohoho
Ngomong-ngomong masalah hujan nih, gue jadi punya inspirasi dan masih objectnya dari tokoh yang sama... And enjoyed! :) selamat membaca..
...........................................................................................................
Aku suka memandangi hujan berlama-lama, tapi tanpamu, rasanya mungkin tidak lagi sama.
Aku suka ngobrol, smsan sampai ketiduran, tapi siapapun yang kemudian menemaniku melakukan itu, mungkin rasanya tidak akan senyaman ketika aku melakukannya denganmu.
Aku ingin kamu tinggal, tentu saja. Tidak ingin berpisah, tentu saja. Tapi aku bisa apa? Tiba-tiba kamu ingin pergi begitu saja. Kalau kamu bilang hubungan ini tidak bisa lagi dipertahankan. tetapi kamu tidak mencoba untuk bertahan, sayang, darimana kamu tau hubungan ini tidak bisa dipertahankan?
Sepetinya kamu tidak terlalu peduli untuk mencoba lagi. Terlalu mencari menangmu sendiri untuk berusaha mengerti. Tapi tidak apa :) Cinta tidak harus dipaksakan.
Aku baik-baik saja. Tidak akan menangis selamanya. Kamu jangan merasa bersalah atau terlalu khawatir dan bertanya-tanya apakah aku (akan) baik-baik saja. Karena pada akhirnya juga toh aku pasti akan baik-baik saja. Harus baik-baik saja.
Masih ingat, pada waktu kamu mengirimkan ku pesan singkat, kamu bilang "Kita masih bisa seperti biasa. Aku masih akan tetep ke rumahmu. Masih bisa berhubungan baik, dsb. Hanya saja ada takarannya."
Aku bertaruh, awalnya ya kita mungkin masih berhubungan, saling menanyakan kabar, masih manggi dengan "Aa, Eneng", mungkin juga ngobrol kadang-kadang. Tapi lama-kelamaan pasti akan berangsur berkurang, lalu saling melupakan. Atau setidaknya, kamu yang sepertinya duluan akan melupakan.
Dulu ketika kamu mengajak ku untuk membangun kembali, menangis bersama, ketika kamu memberikanku cincin, ingat?
Kemana sifat tidak pernah menyerah sebelum mendapatkan yang kamu mau itu? Atau setelah mendapatkan, sudah tidak lagi menantang?
Apa kamu tidak ingat, kamu pernag mengenalkanku kepada saudara-saudaramu, teman-temanmu dan begitu membanggakan ku? Kemana sekarang perginya kebanggaan itu?
Apa kamu tidak ingat, kamu pernah mengatakan sangat bahagia dan beruntung mendapatkan ku? Kenapa sekarang tidak sebahagia itu?
Kamu bilang, mungkin karena aku berubah, itu alasannya.
Sebenarnya aku masih sama, selalu seperti dulukarena kamu bilang mencintaiku tanpa ingin mengubahku. Tidak mungkin aku berubah kalau itu beresiko melunturkan cinta mu. Dimana aku sedang cinta-cintanya denganmu.
Kalau begitu sebenarnya yang berubah itu siapa?
Sekarang, kalau tiba-tiba aku mendengar lagu yang biasa kita nyanyikan berdua dan tiba-tiba begitu merindukan mu. Aku harus bagaimana????
Kalau tengah malam tiba-tiba aku kangen banget ngobrol di telpon dengamu. Aku harus bagaimana?
Kalau tiba-tiba aku melewati jalan yang bisa kita lewati setiap jalan berdua, tempat kita suka beli ayam bakar, tempat kita beli susu ultra, tempat kita duduk di depan warung di depan rumah, tempat kita beli mie ayam, tempat kita berteduh ketika kehujanan, dan mengingat bagaimana dulu bahagianya kita, aku harus bagaimana?????
Ya, aku tau.
"iya, aku juga. kamu harus bisa seperti aku. yang lalu biarlah berlalu" ini yang selalu kamu katakab setiap kali aku mengatakan rindu atau mengajakmu bertemu untuk berbicara (Mungkin atau barangkali) .
Bagi yang sudah tidak mencintai lagi, itu mudah.
Kamu pernah tidak, sedang jatuh cinta-cintanya tapi diminta untuk berhenti mencintainya?
Kamu pernah tidak, sedang kangen-kangennya tapi disuruh jangan lagi melakukannya?
Kalau belum, jangan menganggap 'yang lalu biarlah berlalu' itu semudah mengatakannya. Tidak semudah itu.
Sebagai catatan, aku melepaskanmu bukan karena tidak mencintaimu, aku hanya merasa untuk apamempertahankan yang tidak ingindipertahankan. Untuk apa meminta kamu disini jika kamu selalu berfikir untuk pergi. Untuk apa menanyakan apa kamu masih cinta dan ingin kembali kepadaku kalau jawabanmu tidak pasti.
Sebenarnya, saling mencintai itu berpikirnya bukan lagi aku atau kamu.
Bukan lagi aku berusaha mati-matian membahagiakan kamu atau sebaliknya.
Tapi berusaha agar kita bahagia dengan tetap bersama.
Sayangnya, egomu yang tidak ku sangka bahwa bahagiamu jauh lebih penting dari bahagiaku
Aku tau bukan yang utama dari keluargamu dan karir mu kedepannya. Aku tidak ingin diutamakan.
Tapi apakah iya kamu tidak bisa bahagia, tidak bisa membahagiakan keluargamu, tidak bisa merintis karir mu jika ada aku? apakah kehadiranku begitu mengganggu?
Tapi kalau kamu (seandainya) ingin tau dulu apa pendapatkutentang ini, sebenarnya aku rasa kita harus mencoba untuk bertahan dulu. Setidaknya mencoba dulu, bukan semua diputuskan oleh kamu.
-Dinar Mundi Rahayu-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar