Dear, Anday
Banyak yang bertanya tentangmu, Nday.
Tentang bagaimana kabarmu sekarang,
tentang kenapa kamu tidak pernah lagi
aku ceritakan.
Anehnya, mereka malah lupa
menanyakan kabarku, nday. Apa aku
baik-baik saja setelah kamu tidak ada?
Apa aku bisa melepaskanmu setelah
sekian lama? Apa aku masih
mencintaimu (misalnya)?
Mereka lucu sekali kan, nday? Teringat
kamu, mungkin juga mengidolakanmu,
tapi lupa tentang aku.
Padahal, Nday, mereka pasti tidak tahu
kalau kenangan yang kulalui
denganmu, maknanya sangat dalam--
setidaknya untukku. Mereka tidak tahu
kalau saking dalamnya perasaan itu,
aku sampai kesulitan melepaskan saat
memang aku terpaksa harus
melepaskan. Mereka pasti tidak tahu
betapa beratnya masa-masa dulu itu
ketika aku benar-benar sangat rindu,
tapi mati-matian bertahan untuk tidak
menanyakan kabarmu. Mereka pasti
tidak tahu bagaimana rasanya, aku
berusaha agar tidak mencari tahu di
semua sosial media tentang apa-apa
yang berkaitan denganmu.
Mungkin karena mereka tidak tahu itu,
jadi mereka menanyakan tentangmu.
Ya, mungkin seperti itu.
Jadi, mungkin juga mereka tidak tahu
bahwa melepaskanmu itu butuh hati
yang besar. Sangat besar. Karena jika di
tengah-tengahnya, tiba-tiba kamu
menanyakan kabar, usahaku bisa
langsung berantakan. Kembali dari nol
lagi. Kembali kepalaku dipenuhi dengan
kamu lagi.
Dan juga, seberapa keras pun aku
berusaha melupakan, kadang-kadang
kalau tiba-tiba ada lagu yang pernah
kita nyanyikan tiba-tiba terdengar,
fragmen-fragmen kenangan tentangmu
datang seperti ratusan pedang. Kalau
seperti itu, bagaimana aku bisa
melupakan?
Kalau ada yang melintas dan
helm full face nya mirip denganmu, tanpa
sadar mataku mengikutinya dari
belakang dan membatin, "Seperti
kamu...". Itu aku tahu kalau bukan
kamu, hanya saja, reflek mata dan
batinku seolah memberi harapan kalau
seandainya itu benar kamu.
Kalau tiba-tiba ada yang memiliki
parfum yang sama denganmu lewat di
depanku, aku langsung teringat betapa
seringnya dulu aku mencium wangi
itu.Wangimu, suaramu, percakapan
kita. Semua langsung melintas di
pikiranku begitu saja.
Itu. Melepaskanmu seberat itu.
Padahal aku tahu tentang cinta, Nday.
Paham benar teorinya. Bahwa pada saat
aku memutuskan berhenti mencintai,
pada saat itu juga, apa pun yang
berhubungan denganmu
seharusnya aku berhenti melibatkan
hati.
Tapi teori memang selalu dibuat lebih
mudah dari prakteknya kan, Nday?
Prakteknya tidak semudah itu.
Nday, kita pernah nyaman, berdua.
Tertawa, berbagi cerita, berbagi lagu, menikmati susu dan air putih (aku susu, kamu selalu ingin air putih saja),
atau melewatkan waktu di rumah nenek dengan
menonton film bersama. Dua film berbeda, tentu saja.
Mungkin memang hidup (atau cinta?)
itu seperti itu, ya, Nday? Kadang-kadang
ada dua orang yang diberi kesempatan
untuk meluangkan waktu yang sangat
nyaman ketika bersama, berdua. Tetapi
kesempatan kebersamaan itu bukanlah
kebersamaan yang bersifat selamanya.
Mereka hanya diberikan waktu untuk
menyimpan kenangan-kenangan
keduanya untuk belajar mana yang baik
untuk mereka lakukan dan mana yang
bukan untuk pasangannya di masa
depan (bukan pasangannya yang
sekarang). Hanya diberi kesempatan
untuk merasakan bahwa cinta bisa
sehangat itu, senyaman itu, tapi juga
harus belajar tentang arti melepaskan
jika memang harus melepaskan. Hanya
diberi kesempatan menahan beratnya
rindu di awal-awal ketika tidak lagi
bersama, sampai mereka bisa benar-
benar melepaskan.
Tetapi tidak apa. Pada akhirnya, mau
tidak mau, seseorang akan dipaksa
melepaskan sesuatu yang bukan
untuknya. Seperti kamu, yang
seberapapun nyamannya aku
bersamamu, seberapapun inginnya aku
menua bersamamu, berbagi cerita,
menikmati teh dan tempe orek yang ku buat untukmu
sepulang kamu kerja, pada akhirnya, kalau
memang bukan untukku, mau tidak
mau, aku harus melepasmu.
Hmm...
Kamu pasti sudah bahagia sekarang,
Nday. Aku tadi melihat sosial mediamu.
Dulu mungkin aku langsung patah
melihatnya, sekarang, setelah sekian
lama, setelah aku mampu melepaskan,
entah kenapa melihatmu bahagia, aku
justru juga ikut bahagia. Cinta memang
benar-benar aneh, ya, Nday? Meskipun
perasaannya sudah tidak ada, tetapi
kita bisa ikut bahagia jika orang yang
pernah kita cinta ternyata berbahagia.
Mungkin itu cinta yang sebenarnya,
Nday. Karena ada juga yang namanya
obsesi memiliki, yang seolah mencintai,
padahal hanya sekadar obsesi.
Biasanya, perasaan seperti ini rapuh,
Nday. Terlalu mudah patah hati.
Aku nanti juga pasti bahagia karena
seperti katamu, kita tetap akan bahagia,
sendiri-sendiri atau bersama. Aku
percaya pada bahagiaku seperti kamu
percaya pada bahagiamu. Dan kalau
ada yang bertanya kenapa aku menulis
ini dan mengingatmu sampai mencari
tahu tentangmu, karena malam ini,
setelah lama kamu tidak datang ke
pikiranku, tiba-tiba tadi ada yang
menyanyikan sebuah lagu .... di televisi.
Itu lagu kita.
Dulu lagu kita.
.............................................................................................................................................
20 oktober 2013
Malam ini ga sengaja lagi liat2 file laptop nemu tulisan yang gue tulis setahun lalu di notepad :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar